Puskominfo Indonesia: “Pentingnya Literasi Bagi Jurnalis dalam Menangkal Hoax”

centerweb

IMG 20210203 WA0001

KEBEBASAN pers sejak era reformasi diberikan pemerintah untuk mendapatkan keleluasan yang lebih besar kepada media massa agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Seiring dengan itu, Puskominfo Indonesia, sebagai organisasi pers yang menaungi hampir 70 media, baik cetak maupun elektronik, juga tumbuh berkembang dengan jumlah wartawannya yang terus bertambah.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Puskominfo Indonesia, Diansyah Putra Gumay, SE, S.Kom, MM di kediamannya Ciaruteun, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/2/21).

“Seperti kita ketahui dan rasakan, kebebasan pers itu ternyata sedikit banyaknya juga menimbulkan masalah. Karena itu wajar jika kemudian muncul kekhawatiran terjadinya pers yang kebablasan, yang berujung pada pertentangan di dalam masyarakat,” kata Abah Gumay.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang di dalamnya mengatur hak dan tanggung jawab insan pers, kata Adrian, sedianya mengatur dan diharapkan bisa menjadi jalan keluar setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Namun demikian, Abah Gumay melihat, beberapa media yang sudah eksis bahkan yang memiliki nama beserta penikmatnya justru kerap kali menyalahgunakan kepercayaan pembacanya dengan menyajikan berita yang kurang valid, tidak jelas, bahkan tidak bermanfaat. Demi rating, popularitas, dan kepentingan golongan.

“Tak sedikit juga pers Indonesia yang lupa pentingnya kredibilitas dan netralitasnya hanya untuk hal tersebut,” kata Pakar IT dan Manajemen Media di Kapolisian tersebut.

Untuk itu, lanjutnya, Puskominfo sebagai sebuah lembaga pers memberikan bekal literasi kepada para jurnalis untuk menyajikan berita secara berimbang tanpa hoax kepada publik.

“Acap kita jumpai satu peristiwa saja akan menghasilkan beberapa sudut pandang yang berbeda antara satu lembaga pers dengan lembaga pers lainnya. Pembaca pun yang bertindak sebagai penerima informasi harus bersikap lebih bijak dan mencari tahu kebenaran berita tersebut terlebih dahulu sebelum menentukan sikap,” kata Adrian Gumay.

Meski pada kenyataannya, kata Abah Gumay, sebagian masyarakat Indonesia cenderung menelan mentah-mentah berita yang disajikan sebuah media.

Untuk itu, tingkat literasi media di Indonesia perlu dipelajari lebih banyak oleh insan media, sehingga masyarakat tidak hanya membaca sebagian dan seakan menolak untuk mencari tahu lebih dalam kebenarannya.

Pembaca juga diharapkan bisa lebih bijak lagi dalam membaca berita dari sebuah media. Meskipun berita yang dibaca merupakan hasil tulisan dari sebuah media besar dan cukup terpercaya, namun sebagai pembaca harus tetap bijak.

“Perlu digaris bawahi, berita-berita hanyalah tulisan manusia yang tentu dapat melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Sebagai pembaca yang baik menjadi pengawas kinerja media. Karena media manapun pasti memerlukan kritik dan saran yang dapat membangun media tersebut menjadi lebih baik,” papar Adrian yang juga tenaga pengajar di Kepolisian

Dengan begitu, lanjut Abah Gumay, pada akhirnya akan lahir media yang berkualitas. Tercipta hubungan antar penulis berita atau jurnalis dan pembaca berita mendapatkan keseimbangan dalam menyikapi sebuah berita.

Puskominfo Indonesia sebagai sebuah Lembaga Pers yang selalu menitikberatkan pada kebenaran dan fakta yang berimbang, menjadikan media informasi dengan memberikan bekal literasi pada jurnalis agar para jurnalis dalam setiap penulisan berita semakin optimal, bertambah wawasan, serta mempertajam diri dalam menangkap suatu informasi dari sebuah pemberitaan.

“Puskominfo sebagai lembaga media yang juga memberikan pemahaman kepada para jurnalisnya akan pentingnya literasi dalam setiap penulisan berita agar tidak ada berita hoax,” jelas  Abah Gumay.

Karena itu, menurutnya, media memiliki peran penting agar masyarakat dapat menerima berita dengan bijak, jika jurnalis menguasai literasi yang benar.

“Akibat semakin gencarnya terpaan informasi, berbagai teknologi dan media digital yang tidak diimbangi dengan kecakapan mengaksesnya, maka dibutuhkan pemahaman dalam menggunakan media secara sehat,” jelas Abah Gumay. BN01 – BOGOR

Next Post

BNNP JATIM Dapat Patner Baru PP"AJIB Dalam Penanganan Pencegahan dan Rehabilitasi Narkoba

Surabaya, Barometerkriminal.com – Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur jalan Sukomanunggal no. 55-56 Surabaya, Kamis (04/02/2021) sekitar pukul 11.00 Wib kedatangan tamu dari yayasan Rehabilitasi Narkoba “PP AJIB” “Aura Jiwa Indonesia Bersinar Dewan pembina Adv, H. Al Habib Abdul Kadir Zain Assegaf, S.H, Yang Di Dampingi, Sekretaris Jendral […]
WhatsApp Image 2021 02 05 at 05.38.44

Subscribe US Now